Andreas Kurniawan 27 kali Gagal Berbisnis

jkeitee.com Tidak ada seorang pengusaha pun yang menginginkan usaha yang telah dirintisnya harus gagal di tengah jalan alias bangkrut.

Apalagi jika sampai harus mengalami kebangkrutan hingga berkali-kali.

Dibutuhkan kekuatan mental yang luar biasa untuk bisa bangkit setelah mengalami kegagalan bisnis sebanyak itu.

Selain mengorbankan mental, pengusaha juga harus mengorbankan sejumlah uang yang digunakan untuk mendirikan bisnis tersebut.

Namun pengusaha yang bermental baja bisa tetap mengambil hikmah dari kejadian tersebut dan kembali bangkit bahkan dengan kesuksesan yang lebih besar lagi.

Pengusaha tersebut adalah Andreas Kurniawan yang telah mengalami kegagalan hingga 27 kali sebelum akhirnya bisa meraih sukses ketika berbisnis Plafon Gipsum.

Tak pelak, kegagalan-kegagalan yang dia alami justru menjadi pengalaman yang berharga untuk  mempersiapkan bisnisnya.

Berawal dari Menjadi TKI

Pada awalnya Andre hanyalah seorang tenaga kerja asing yang bekerja di negeri matahari terbit, Jepang.

Dalam upayanya untuk menambah kemampuan berbahasa Jepang, Andre kemudian menyewa seorang guru bahasa yang kemudian banyak mendorongnya untuk berbisnis sendiri.

Menurut sang guru, Indonesia seharusnya sudah menjadi negara maju karena memiliki sumber daya manusia dan alam yang melimpah.

Berkat beberapa nasihat dari guru bahasanya, Andre kemudian membulatkan tekad untuk kembali ke Indonesia dan menjadi pengusaha.

Hanya tiga tahun bekerja di Jepang, Andreas memutuskan untuk pulang dan memulai perjalanannya membuka bisnis dengan bergabung ke perusahaan Multi Level Marketing (MLM).

Meski bukan bisnis yang dibangun sendiri, Andreas mengaku bergabung dengan MLM untuk mempelajari ilmu menjual dan meyakinkan orang lain.

Karena pekerjaannya sebagai MLM tidak banyak menyita waktu, Andre kemudian menjajal bisnis lain yaitu dengan berjualan jahe millik saudaranya.

Belum memiliki karyawan, Andre pun berupaya menawarkan minuman jahe itu sendiri kepada para pedagang yang ia temui di pasar.

Merasa belum puas hanya mengikuti MLM dan berjualan minuman jahe, Andre kembali merambah bisnis lain yaitu penjualan tas untuk alat musik.

Tidak tanggung-tanggung , Andre nekat mengumpulkan modal dengan menggadaikan sertifikat tanah miliknya.

baca juga artikel category

Pengalaman Ditipu Rekan Bisnis

Pada awalnya, ketiga usaha tersebut dijalani oleh Andre tanpa hambatan berarti.

Menjelang tahun kedua, masalah mulai muncul ketika satu-persatu usahanya justru banyak merugi.

Salah satu alasannya utamanya adalah ia banyak ditipu oleh calon pembeli yang tidak membayar setelah mengambil barang.

Padahal Andre juga memutuskan untuk menghentikan keanggotaannya di perusahaan MLM di saat bisnisnya sedang hancur-hancuran.

Demi menebus sertifikatnya yang dijaminkan di Bank, Andre pun mencoba peruntungannya lagi dengan menjadi guru Bahasa Jepang berbekal pengalamannya hidup di sana.

Les Bahasa Jepang ini dikhususkan bagi mereka yang ingin melanjutkan studi dan bekerja di negeri matahari terbit tersebut.

Usaha ini hanya bertahan selama setahun setelah berkurangnya jumlah murid yang mendaftar di tempatnya.

Seusai menutup bisnis les Bahasa Jepang, Andre masuk ke bisnis penjualan kayu dan kembali meminjam sejumlah uang di Bank dan menggadaikan aset milik orangtuanya.

Bisnis ini sepertinya memberi peluang besar bagi Andre ketika ia berhasil mendapatkan pesanan kayu jati sebanyak 1.200  ton dari seorang pembeli di Thailand.

Berhasil mendapatkan pesanan kayu yang diminta setelah berkeliling di Pulau Sumatera, Andre harus menelan pil pahit lantaran lagi-lagi ia kena tipu.

Kayu yang berhasil didapatkannya hanya dibawa oleh sang pemesan ke Thailand tanpa membayar.

baca juga Editors Choice

Andreas Kurniawan, Lalui 27 kali Gagal Berbisnis sebelum Sukses di Usaha Plafon

Kerugian yang didapat oleh Andre ditaksir dapat mencapai 4 milyar dan belum termasuk dengan bunga dari pinjaman yang ia ambil dari 16 lembaga keuangan yang berbeda.

Dikejar-kejar banyak penagih hutang yang silih berganti ke rumahnya membuat Andre sampai harus merasakan depresi dan ketakutan.

Dalam kondisi keuangan morat-marit, Andre masih beruntung sang kekasih masih mau memutuskan untuk menikahinya karena melihat sang pasangan memiliki mental pekerja keras.

Untuk membalas kesetiaan sang istri, Andre pun tak mau terus-terusan terpuruk dan mencoba kembali berbisnis.

Andre sempat menjajal bisnis seperti berjualan makanan, pakaian, aksesoris komputer, peralatan elektronik, hingga menyewakan rumahnya sebagai kos-kosan.

Bahkan ia juga kembali mencoba keberuntungannya kembali sebagai guru les privat Bahasa Jepang di sebuah perusahaan penyalur TKI.

Meski belum ada bisnisnya yang dikatakan berhasil, Andre bersama dengan sang istri tetap menjalani hidup dengan tegar.

bac ajuga

Berhasil di Usaha Plafon

Andre akhirnya mulai mendapatkan titik terang dalam karir berbisnisnya berkat ajakan temannya untuk menjual plafon keluaran perusahaan Shunda.

Mengikuti perkembangan ekonomi digital pada waktu itu, Andre lebih memilih untuk memanfaatkan kanal daring untuk menawarkan plafon ke berbagai calon pembeli.

Tidak mau usahanya mentok, Andre juga kerap kali mengikuti berbagai seminar tentang Search Engine Optimization dan Internet Marketing demi dapat menguasai ekonomi digital.

Selain itu Andre juga tekun menjalani bisnis ini tanpa bantuan karyawan.

Pada beberapa kesempatan, Andre harus melayani kliennya yang berada di luar kota mulai dari proses pengerjaan hingga membuat bon tagihan sendiri.

Pada akhirnya Andre dipercaya untuk menjadi distributor di sekitaran Semarang dan dapat mempekerjakan karyawan untuk membantu usahanya.

Tidak tanggung-tanggung, pelanggan pertama yang dilayani Andre adalah perusahaan BUMN, P.T Adhi Karya yang sedang mengerjakan proyek pembuatan pabrik Indofood di wilayah Semarang.

Pada tahun 2017, Andre resmi menjadikan bisnis plafonnya menjadi sebuah Perseroan Terbatas dengan nama Atlantis Karya yang memilliki dua kantor cabang dan omzet 2,25 milyar Rupiah perbulannya.

Tidak hanya berkecimpung di dunia plafon, Andre juga berencana masuk ke dalam bisnis baja ringan untuk pasar konstruksi bangunan besar.

baca juga

Terus Belajar

Kesuksesan yang akhirnya diraih oleh Andre di bisnis plafon tidak serta merta membuatnya jumawa dan besar kepala.

Andre banyak mengakui bahwa ia masih mengalami kekurangan dalam berbagai aspek seperti tim pemasaran yang belum terbentuk.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Andre tidak lupa untuk selalu belajar tentang perkembangan bisnis dan strategi pemasaran terkini.

Dari hasil pembelajaran secara mandiri tersebut, Andre kemudian membangun institusi pemasaran untuk produk yang dijualnya dengan nama Indonesia Global Sinergi.

Bersama dengan tim penjualnya tersebut, Andre mematok dapat menguasai pasar Jawa Tengah untuk bisnis plafonnya.

Leave a Reply

four × 3 =

Open chat
silahkan chat kami disini
Silahkan Chat Untuk
Pemasangan Iklan Dan
Order Jasa Digital Marketing
Powered by