Burn Rate: Definisi dan Cara Menghitungnya

Apa itu burn rate?

Burn rate biasanya digunakan untuk mendeskripsikan rasio sebuah perusahaan dalam menghabiskan dana dari VC, sebelum perusahaan tersebut (dalam hal ini, startup) dapat menghasilkan arus kas positif. Istilah burn rate sendiri digunakan dalam standar per bulan. Contohnya adalah burn rate $100ribu sebulan, maka itu berarti startup tersebut menghabiskan $100ribu dalam sebulan.

Startup dan investor menggunakan burn rate untuk melacak jumlah dana per bulan yang digunakan. Burn rate startup ini juga digunakan untuk mengukur seberapa jauh runway yang tersisa, jumlah waktu yang tersisa untuk startup sebelum mereka kehabisan dana.

Misalnya startup memiliki $100,000 di bank dan menghabiskan $10,000 sebulan, maka burn ratenya adalah 100.000 dibagi 10.000. Berarti startup punya sisa waktu 10 bulan sebelum kehabisan uang.

Gross Burn vs. Net Burn

Ada dua tipe burn rate. Yang pertama, ada net burn, yang kedua adalah gross burn.

Gross burn adalah total burn rate kotor. Burn rate ini belum dihitung dengan pemasukan. Net burn adalah burn rate yang dihitung dengan pemasukan yang sudah ada. Jadi net burn adalah burn rate bersih.

Jadi, apabila startup menghabiskan Rp 50 juta untuk sewa space, Rp 100 juta untuk server, dan Rp 60 juta untuk menggaji karyawan, maka, gross burn rate adalah Rp 210 juta.

Sementara apabila startup ini sudah memiliki pemasukan, maka net burn-nya bisa dihitung. Misalnya startup memiliki burn rate sebesar Rp 210 juta. Namun apabila startup ini sudah memiliki pemasukan katakanlah Rp 50 juta sebulan, maka burn ratenya adalah Rp 160 juta.

Gross burn dan net burn adalah perbedaan penting, karena ini akan mempengaruhi jumlah uang yang dimiliki oleh startup, dan seberapa panjang nafas startup yang tersisa. Ini juga mempengaruhi keputusan founder kapan akan menggaet investor untuk suntikan dana, dan kapan founder menambah opsi monetisasi di startupnya.

Selain itu, dengan mengetahui seberapa besar burn rate dan potensi pemasukan yang didapat, investor bisa menilai seberapa besar resiko yang akan ia ambil dalam berinvestasi di startup tersebut.

Burn rate adalah konsep yang perlu diketahui semua orang yang berminat membangun startup. Ini adalah kunci mengukur keberlangsungan startup, sekaligus untuk mengukur seberapa lama startup Anda akan bertahan hidup. Bisa dibilang burn rate adalah berapa lama nafas startup Anda tersisa.

Bila burn rate terus meningkat sementara tidak diimbangi dengan perkembangan revenue yang positif, maka startup Anda dibilang cukup beresiko untuk disuntikkan dana. Namun bila burn rate tetap stabil sementara Anda memiliki perkembangan revenue yang bagus, maka startup Anda terbilang positif. Startup Anda akan sangat menarik untuk disuntikkan dana oleh investor.

Mengapa burn rate penting?

Ada dua alasan kenapa burn rate penting untuk dibahas.

Yang pertama, inilah indikator yang mengetahui kapan Anda akan kehabisan uang.  Yang kedua, ini adalah salah satu aspek utama yang diperiksa investor, dan membandingkannya dengan potensi revenue yang akan didapat perusahaan tersebut. Dari sinilah pemodal ventura bisa memutuskan apakah startup ini bagus untuk disuntikkan dana atau tidak.

Jika burn rate ini lebih besar dari perkiraan awal, sementara revenue startup tidak berkembang sesuai perkiraan, maka pemodal bisa saja menjual kepemilikannya pada pihak lain, atau malah memutuskan untuk tidak berinvestasi sama sekali.

Bagaimana cara menghitung burn rate?

Analisa burn rate akan menjadi indikator apakah startup Anda sudah bisa menghidupi diri sendiri, atau perlu mendapatkan tambahan dana. Ada banyak cara untuk menghitung burn rate, namun kami punya dua cara mudah untuk menghitung burn rate.

2 Cara Mudah Menghitung Burn Rate

1. Yang pertama, tentukan dulu rentang yang ingin Anda gunakan. Minggu, bulan, atau kuartal. Berapa selisih saldo Anda di awal rentang waktu dan di akhir rentang waktu tersebut?  Selisih ini bisa dibilang sebagai burn rate. Namun biasanya ini digunakan untuk startup yang belum ada revenue, alias belum ada pemasukan.

2. Bila startup Anda sudah ada pemasukan, maka kurangi burn rate ini dengan pemasukan Anda. Ini disebut dengan net burn.

Jika Anda ingin startup Anda terus bertahan, maka pemasukan Anda harus lebih besar dari burn rate. Tentu saja, jika Anda berencana untuk melakukan akuisisi, maka burn rate Anda akan lebih besar lagi.

Anda harus mampu mengelola burn rate agar tetap dalam batas minimal, maka Anda dapat menggaet investor. Namun mungkin walaupun burn rate Anda besar dan Anda belum punya pemasukan, Anda masih tetap bisa mendapatkan suntikan dana dari angel investor.

Bagaimana cara meminimalisir burn rate?

Ketika Anda belum memiliki investasi dan masih menggunakan dana sendiri, tentu Anda perlu meminimalisir burn rate. Bagaimana caranya?

1. Menganalisa dampak pembelanjaan

Ketika Anda memutuskan untuk belanja besar, analisa dulu kas Anda dan berapa besar dampaknya pada keuangan jangka panjang.

Mungkin Anda butuh perangkat keras yang lebih canggih, internet yang lebih cepat, space yang lebih nyaman, dan lain-lain. Usahakan keputusan pembelanjaan diambil dari keputusan logis, bukan karena keputusan yang kalap.

Jika memang harus belanja besar, usahakan pembelanjaan ini kelak memberi manfaat yang bisa dilihat dengan data.

2. Tunda sebulan

Mungkin Anda butuh sekali untuk membeli fasilitas baru demi kemajuan startup Anda. Namun bila Anda masih bisa menggunakan fasilitas lama, ada kemungkinan kecil bahwa Anda bisa menunda pembelian ini.

Cobalah untuk menunda pembelian ini selama sebulan. Bisakah Anda bertahan tanpa melakukan pembelian ini? Siapa tahu, bulan depan Anda mendapatkan pemasukan atau ada suntikan dana.

Kebiasaan simpel ini bisa menjauhkan Anda dari beban tambahan. Seringkali, apa yang kita rasa butuh ternyata hanya keinginan sepintas lalu saja.

3. Rencanakan pembelian dengan jangka waktu tertarget

Trik lainnya adalah disiplin dalam pembelanjaan. Berikan jadwal waktu pembelian setelah Anda mencapai target tertentu. Setelah mencapai target tersebut, maka belilah fasilitas atau lakukanlah pengeluaran yang Anda anggap perlu.

baca juga

    4. Analisa

    Tentu saja burn rate tak hanya berasal dari pembelanjaan. Dapat pula berupa penggajian staf atau membayar freelancer.

    Sebelum melakukan pengeluaran yang satu ini, pastikan Anda mengetahui angka yang dikeluarkan dan berapa potensi angka yang akan kembali. Lihat angka-angka ini, agar Anda memahami resiko sebelum mengeluarkan pengeluaran berikutnya.

    Ini akan mengurangi nafsu untuk melakukan pengeluaran berlebih, dan juga membantu menahan diri dari membeli barang-barang yang belum diperlukan.

    Nah, demikianlah penjelasan tentang burn rate dan tips mengelolanya. Semoga bermanfaat.

    You May Also Like
    Read More

    Lumpia Cik Me Me

    jkietee.com – Tidak hanya sebagai jajanan biasa, Lumpia sudah menjadi salah satu ikon dari Kota Semarang. Makanan yang…