Duolingo “Bantu Diri, Bantu Dunia”

jkietee.com – Aplikasi Duolingo seolah menjadi angin segar bagi segenap khalayak yang ingin belajar bahasa namun terkendala banyak hal. Dengan banyak pilihan dan UI yang menarik, tak heran ia mendulang popularitas dalam waktu singkat sejak peluncurannya.

Dirilis pada tahun 2011, aplikasi burung hijau ini kini sudah memiliki sekitar 200 juta pengguna, dan bisa diakses menggunakan Android, Ios, Windows Phone, dan Windows 10 Mobile.

Alexa mencatat Duolingo menempati urutan 794 per Maret 2018, dan hingga kini aplikasi Duolingo menawarkan 68 pelajaran bahasa yang berbeda menggunakan 23 bahasa; ditambah 22 lagi yang sedang dalam perkembangan.

Sejarah Berdirinya Duolingo

Sesuai dengan slogannya (“Edukasi bahasa gratis untuk kita semua”), rupanya Duolingo berangkat dari keprihatinan akan akses orang-orang terhadap edukasi.

Seperti yang kita ketahui bersama, pendidikan lanjutan seperti bahasa adalah hak khusus bagi orang-orang atau anak yang punya uang dan waktu. Padahal di zaman sekarang, penguasaan bahasa lain sudah merupakan persyaratan awal untuk mencari kerja.

Karenanya, Luis von Ahn, seorang profesor dari Carnegie Mellon University, mulai mengembangkannya pada tahun 2009. Dibantu oleh salah satu mahasiswanya yang sudah lulus, Severin Hacker, keduanya mulai bekerja.

Duo-lingo, duo-fungsi

Nama Duolingo sendiri datang gagasan untuk menyatukan dua fungsi dalam satu aplikasi. Maksudnya, von Ahn menginginkan sebuah program yang bisa menerjemahkan frasa-frasa sederhana atau dokumen dari satu bahasa ke bahasa lain, sekaligus mengajarkannya pada penggunanya.

Ini terjadi karena masa lalu von Ahn sendiri terbilang jauh dari dikelilingi orang kaya. Dia besar di Guatemala, dan profesor muda itu ingat betapa orang-orang di kampungnya selalu merasa pendidikan itu mahal.

“Padahal pendidikan gratis bisa mengubah dunia jadi lebih baik,” ucapnya, yang diamini oleh rekan kerjanya, Hacker.

Mulai diluncurkan

Mulanya, Duolingo diluncurkan secara beta pada 30 November 2011. Pencapaiannya bisa dibilang bagus, dengan 300.000 pengguna lebih rela mengantre untuk peluncuran resminya.

Baca juga: 19 Cara Meningkatkan Pendapatan eCommerce

Melihat potensi dari aplikasi ini, berbagai investor tertarik untuk menanamkan modal. Pada Seri C, Kleiner Caufield & Byers—yang juga investor bagi platform edukasi lain, Coursera—memberikan suntikan 20 juta dollar. Menyusul pada Seri D, Google Capital juga turut memberikan investasi sebanyak 45 juta dollar.

Kini, Duolingo punya 95 orang anggota staff di kantornya di Pittsburgh, East Liberty sana.

Model Bisnis Duolingo

Aplikasi ini mendulang laba dengan model freemium. Sebelumnya, mereka memperoleh laba dari menjual konten yang dimasukkan oleh pengguna sebagai basis teks untuk website-website seperti CNN atau Buzzfeed.

Akan tetapi pada 2012, model bisnis itu tidak efektif. Antara lain sebab pesaing mereka, Gengo, juga melakukan hal yang sama. Di samping itu, model demikian mempersyaratkan pengguna untuk mengakses Duolingo melalui PC; padahal 4 dari 5 pengguna menggunakan aplikasi ini di perangkat mobile.

Biarpun niatnya mulia, Duolingo masih butuh dana untuk terus berjalan. Akhirnya, model bisnis mereka pun berubah. Mereka membuka pusat sertifikasi bahasa; suatu wadah bagi para pengguna untuk memperoleh sertifikat kemahiran berbahasa—seperti TOEFL atau IELTS.

Selain itu, aplikasi mereka juga mulai menerima konten iklan (ads), sehingga pengguna yang merasa terganggu dengan pop-up semacam itu boleh membeli versi premium atau membayar sejumlah subscription money; suatu praktek lazim.

Per September 2017, 50% pendapatan revenue didulang dari iklan, 48% dari in-app purchases, dan 2% ;agi dari tes sertifikasi bahasa seperti yang dijelaskan di atas.

Kelebihan Duolingo: Belajar Bahasa tapi Serasa Main

Diunduh oleh lebih kurang 10 juta orang per bulan dan menjadi aplikasi nomor 1 di kategori edukasi, pasti ada alasan mengapa Duolingo menjadi yang terdepan.

Rupanya, ini karena pengguna merasa sedang “main” saat menggunakannya. Bahkan, pengguna tidak jarang menyebut penggunaan Duolingo sebagai permainan bahasa, dan bukannya kursus online.

Orang-orang yang lebih suka menggali potensi diri biasanya lebih suka memasang earset sambil menyalakan duolingo di taman, kereta, atau bahkan saat waktu luang di kantor. Bagaimanapun juga, ;ebih baik belajar bahasa daripada memainkan permainan-permainan yang dirasa kurang memberikan manfaat.

Tertulis dan Dengan Suara

Tengok saja cara penggunaannya. Duolingo menyediakan pembelajaran tertulis maupun dengan suara, tetapi ada juga praktek untuk user yang sudah lebih dahulu menguasai sedikit tentang bahasa yang diincar.

Ada semacam skill tree di Duolingo di mana seorang user bisa menyelesaikan suatu bab pembelajaran (yang biasanya paling awal dimulai dengan nama-nama makanan, atau tempat, panggilan), kemudian menuju cabang pohon lain (kalimat-kalimat yang lebih kompleks), dan seterusnya.

Bab-bab yang sudah diselesaikan akan ditandai warna emas. Dari keberhasilan itu, pengguna langsung mendapatkan EXP Point untuk lanjut ke babak berikutnya. Persis main RPG biasa, bukan?

Tantangan Terbesar Duolingo

Namun meskipun hal-hal di atas dirasa menarik, Duolingo bukannya tidak punya pesaing. Tantangan terbesar mereka adalah menaklukkan pasar Asia, sebab di sana persaingannya akan sangat ketat.

Sejauh ini, pengguna terbesar Duolingo ada di Amerika dan Eropa. Utamanya Brazil dan Meksiko, yang diikuti Perancis dan Italia. Yang jelas-jelas absen dari pasar pengguna ini adalah negara-negara yang menggunakan bahasa Non-Roman dengan huruf-huruf berbeda, seperti misalnya Timur Tengah dan Asia.

TutorGroup misalnya, sudah mulai melancarkan langkah dengan menerima pendanaan sekitar 100 juta dollar dari investor-investor besar di Asia seperti Grup Alibaba, Temasek, dan Qiming Venture.

Sadar akan hal itu, kini Duolingo sedang menggodok sistem untuk user dengan bahasa Indonesia, Yiddish, Haitian Creole, dan Arab. Ini tentu saja untuk meraih para pengguna di sektor dan wilayah-wilayah yang belum terjangkau, agar tidak ketinggalan dalam persaingan.

baca juga

    Perluasan ke Segmen Lain

    Sukses dengan penerjemahan dan pembelajaran bahasa, pengguna mulai bertanya-tanya akankah Duolingo melebarkan sayapnya ke bidang studi lain. Misalnya, pembelajaran matematika atau kimia.

    Mereka menjawabnya dengan menerbitkan Tinycards, model Flashcard untuk perpanjangan model bisnis mereka. Langkah ini dinilai berani sebab model “flashcards” sudah lama dinilai kuno alias ketinggalan zaman. Sejauh ini, TinyCards masih membawa fungsi yang sama—pendalaman bahasa—namun Luis von Ahn tidak menutup kemungkinan untuk merambah pelajaran lain.

    Apa pun jadinya, Duolingo bisa dibilang sukses dalam dua hal: mencerdaskan dunia, dan membawa kekayaan bagi para pekerjanya. Sebab kekayaan tidak selalu harus berseberangan dengan idealisme pribadi, termasuk menyejahterakan kehidupan orang banyak. Inspiratif, bukan?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You May Also Like
    Read More

    Kompas Gramedia

    Jakob Oetama Kompas Gramedia https://www.jkietee.com – Siapa tak kenal Kompas Gramedia? Salah satu perusahaan media besar di Indonesia.…