Min Liang Tan

jkeitee.com – Diperlukan pengetahuan yang tepat bagi seorang pebisnis untuk bisa memandu bisnisnya menuju arah yang tepat.

Beberapa perusahaan seperti Apple dan Microsoft memang didirikan bekal pengetahuan dasar tentang teknologi oleh kedua pendirinya.

Namun terkadang bisnis dapat sukses berjalan hanya dengan bermodalkan passion, tidak melulu harus didasari oleh pengetahuan dan ilmu mengenai industri bersangkutan.

Adalah Min Liang-Tan, seorang sarjana hukum dari National University of Singapore yang kemudian hari justru mendirikan perusahaan perangkat gaming terkenal yaitu Razer. Sempat berkarir sebagai seorang advokat, Min-Liang Tan memutuskan mengambil resiko meninggalkan karirnya demi mengejar impiannya di bidang gaming.

Hingga hari ini Razer telah memiliki nilai valuasi sebesar 4,4 Milliar dollar.

Pindah Haluan

Min Liang-Tan lahir dan besar di Singapura dari pasangan Tan Kim Lee, seorang konsultan Real Estate dan Low Ken Yin seorang ibu rumah tangga.

Sama halnya dengan orangtua Singapura kebanyakan, orang tua Min juga mengharuskan ia bersama dengan ketiga saudaranya untuk mengenyam pendidikan hingga sekolah tinggi.

Liang-Tan menamatkan pendidikan sekolah menengahnya di Hwa Chong College dan meneruskan pendidikan di National University of Singapore untuk mengambil jurusan hukum.

Ia termasuk ke dalam 20 besar murid dengan indeks prestasi paling tinggi ketika berhasil menyelesaikan pendidikan master hukumnya.

Min Liang Tan

Min Liang Tan dan Bisnis Perangkat Game ala Razer

Lulus dari Universitas, Liang-Tan memulai karir hukumnya sebagai seorang advokat dan praktisi hukum yang mewakili Mahkamah Agung Singapura.

Berkarir sebagai praktisi hukum, Min-Liang Tan ternyata juga memiliki passion lain sebagai seorang gamer.

Dalam wawancara dengan Christine Tan dari CNBC, Ia justru mengaku lebih memprioritaskan hidup sebagai seorang gamer dibandingkan sebagai pengacara.

Hal tersebut tidak mengejutkan mengingat masa kecil Liang-Tan banyak dihabiskan untuk bermain game dengan perangkat pemberian ayahnya.

Bahkan awal perjalanannya mendirikan Razer dimulai ketika ia sedang melakukan kegiatan kegemarannya.

Ketika ia bermain Counter Strike ia tak sengaja bertemu dan bertukar pesan dengan teman sepermainannya yang kemudian menjadi Co-Founder dari Razer, Robert Krakoff

Liang Tan kala itu mengeluhkan perangkat mouse yang ada dan berupaya untuk membuat yang lebih baik.

Gayung pun bersambut, selain mendapat tawaran dari Krakoff untuk merancang mouse impian mereka juga mendapat bantuan dana dari sesama gamer kala itu.

Min Liang Tan

Sembari menjalani profesi utamanya sebagai pengacara, Liang-Tan mendedikasikan waktunya untuk mengerjakan proyek mouse tersebut.

Pada tahun 2005, Liang-Tan dan Krakoff resmi mendirikan Razer yang berkantor di Singapura dan San Fransisco.

baca juga kategori

Dari Gamers untuk Gamers

Produk mouse pertama hasil rancangan Liang-Tan bersama dengan Krakoff diberi nama Diamonback yang merupakan jenis nama dari ular. Ada filosofi dibalik pemberian jenis jenis ular sebagai nama dari produk keluaran Razer.

Waktu pertama kali menghasilkan produk mouse, Liang-Tan berikrar bahwa mouse buatannya akan menjadi pionir dalam kompetisi industri perangkat ini.

Nama Diamonback dipilih karena Liang-Tan berpikir bahwa perangkatnya akan “memakan” semua tikus (mouse) yang ada.
Selain filosofi tersebut, Liang-Tan juga memiliki semboyan utama yang bisa dibilang sebagai inti dari seluruh aktivitas Razer.
Semboyan tersebut adalah “Dari Gamers untuk Gamers” dimana Liang-Tan dan Krakoff mengasosiasikan diri mereka sebagai gamers sejati.

Liang Tan mengambil semboyan ini karena menurutnya hanya gamers yang mengerti perangkat seperti apa yang layak digunakan untuk para gamers.

Tidak hanya sekedar lip service, Liang-Tan mengeksekusi semboyan ini dengan turun langsung menjadi Creative Director dari setiap produk perangkat yang ia produksi.

Liang-Tan pernah dengan tegas mengatakan ia tidak mau jika Razer sampai mengeluarkan produk yang dianggap buruk oleh para gamers di luar sana.

Di luar aktivitas bisnis, Liang-Tan menunjukkan jiwa gamersnya dengan menggelontorkan 10 juta ringgit untuk pengembangan E-sports di Malaysia

baca juga

Bukan Perusahaan Game Semata

Dalam sebuah artikel wawancara di media online South China Morning Post, Liang-Tan menolak bahwa perusahannya hanya semata-mata menyajikan produk untuk perangkat game.

Ia justru lebih senang mengasosiasikan perusahannya sebagai perusahaan yang bergerak dibidang penyediaan kebutuhan milenial yang bertumbuh bersama.

Pada tahun 2019 ini tercatat bisnis perangkat game Razer menyumbang sekitar 85% dari pendapatan perusahaan sedangkan sisanya ditopang oleh bisnis perangkat lunak dan sistem pembayaran yang bernama Razer Pay.

Salah satu unit bisnis Razer yang bergerak dalam bidang perangkat lunak adalah Razer Gold, sebuah mata uang virtual yang dapat digunakan untuk berbelanja barang digital.

Hingga Agustus 2019, Razer Gold telah berhasil mengumpulkan sekitar 70 juta pengguna yang mayoritas berasal dari gamers milenial dan generasi Z.

baca juga

Sosok yang rendah hati

Pada tahun 2019, Forbes menetapkan Min-Liang Tan sebagai nomor 50 orang terkaya di Singapura

Jauh sebelum itu, ia juga sudah dinobatkan Juniper Research sebagai tokoh teknologi berpengaruh pada tahun 2015 nomor tiga mengungguli Travis Kalanick selaku CEO dari Uber dan Jack Ma.

Berhasil mencapai sukses dari hasil mengejar mimpinya, Liang-Tan tetaplah seseorang yang rendah hati.

Dalam wawancara dengan Sumiko Tan dari Strait Times, Liang-Tan sangat berterima kasih kepada kedua orangtuanya yang mengharuskannya mengejar pendidikan.

Ia menjelaskan bahwa ilmu yang ia dapat sebagai seorang sarjana hukum banyak berguna baginya dalam membesarkan Razer.

baca juga

Kedua orang tua Liang-Tan diakuinya juga tidak pernah membebankan kepada anak-anaknya untuk mengambil profesi tertentu.

Selain banyak mengucapkan terima kasih atas didikan orang tuanya, Liang-Tan mengaku tidak bisa tinggal jauh-jauh dari orangtuanya.

Liang Tan selalu memilih untuk pulang ke rumah kedua orangtuanya apabila ia sedang berkunjung ke Singapura.

Tidak hanya kepada kedua orangtuanya, Liang-Tan juga masih menyempatkan diri untuk berkunjung ke almamaternya baik untuk menerima penghargaan maupun sekedar untuk memberikan seminar.

Leave a Reply

seventeen + 12 =

Open chat
silahkan chat kami disini
Silahkan Chat Untuk
Pemasangan Iklan Dan
Order Jasa Digital Marketing
Powered by