Mistar, Pengusaha Family Roti

jkietee.com – Memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia alias TKI berarti harus siap dengan lingkungan pekerjaan yang dinamis.

Hal itulah yang dirasakan oleh Mistar kala memutuskan untuk menjadi TKI selepas lulus dari Akademi Maritim di Belawan pada tahun 1998.

Selain mengalami kebingungan karena sedikitnya lapangan pekerjaan yang sesuai, ia juga harus menghadapi kenyataan Indonesia sedang jatuh dalam krisis moneter hebat kala itu.

Meski harus merasakan bekerja di negeri orang, Mistar boleh berbangga hati karena ia merupakan satu dari ribuan pekerja migran Indonesia yang sukses di kemudian hari.

Bekerja selama tiga tahun, Mistar sukses membuka bisnis roti yang ia beri nama Famiy Bakery.

Mistar bisa berbangga karena usaha roti yang ia dirikan bisa menafkahi keluarga besarnya yang hampir seluruhnya terkena dampak krisis moneter pada tahun 1998.

Bingung Menentukan Pillihan Usai Lulus

Tinggal dekat Belawan yang merupakan pelabuhan terbesar di Sumatera Utara, Bukan menjadi keputusan yang sulit bagi Mistar untuk menempuh pendidikan di tempat yang sama.

Akan tetapi Mistar mulai dilanda kebingungan usai berhasil menamatkan pendidikan diploma tiga di lembaga pendidikan tersebut.

Sebagai seorang lulusan jurusan tata niaga, Mistar mendapati bahwa justru banyak pelaku bisnis dan perusahaan yang terpukul karena krisis moneter 1998.

Banyak perusahaan yang justru banyak merumahkan karyawannya atau bahkan tidak beroperasi karena situasi keamanan yang turut tidak kondusif.

Krisis moneter Indonesia kala itu juga membuat ayahnya , Muhammad Sari dan pamannya dikeluarkan dari pekerjaannya di pabrik roti.

Alhasil sang ayah harus bertahan hidup dengan membuka toko kelontong di tempat tinggalnya yang berdekatan dengan mes pekerja sawit.

Mistar yang tidak mungkin bergantung kepada ayahnya kemudian mencoba untuk melamar di pabrik perakitan televisi dekat Tanjung Morawa, namun ia ditolak dalam proses seleksi karyawan karena alasan kesehatan.

Akhirnya ia memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan menjadi tenaga kerja migran untuk penempatan di negara Malaysia.

baca juga

    Mistar, Mantan TKI yang Menjadi Pengusaha Roti Sukses di Kampung Halaman

    Selain karena tidak memiliki persyaratan yang memberatkan, alasan dekat dengan kampung halaman membuat Mistar tidak berpikir dua kali untuk menjadi TKI.

    Di sana ia diterima menjadi seorang pengawas di pabrik tekstil yang berlokasi di Negeri Sembilan dengan gaji pokok sebesar 430 ringgit atau sekitar 1,4 juta Rupiah pada masa kini.

    Berkat tekadnya untuk pulang cepat dari Malaysia untuk kembali ke kampung halaman, Mistar rela sering mengambil lembur sehingga ia bisa mendapatkan sekitar 1.000 Ringgit.

    Ia berencana untuk membuka usaha di kampung halaman sebagai sumber penghasilannya kelak.

    Mistar tidak terpengaruh dengan kebiasaan para tenaga kerja asal Indonesia lain yang memilih untuk menghabiskan uang dengan membeli rumah ataupun hanya untuk konsumsi belaka.

    Pada tahun 2002, Mistar mewujudkan keinginannya membuka usaha dengan mengirimkan uang kepada sang ayah sebagai modal membuka usaha roti.

    Memulai Family Bakery

    Selain mengirimkan uang untuk modal membuka bakery, Mistar juga berpesan kepada sang ayah untuk memberikan nama Family sebagai nama usaha pembuatan roti ini.

    Pemilihan roti sebagai bidang usaha yang dipilih oleh Mistar sendiri bukannya tanpa alasan.

    Maklum saja, sang paman atau pakcik merupakan pembuat roti andal dengan pengalaman bekerja di selama 18 tahun sebelum mereka terkena PHK.

    Nama Family ini sendiri dipilih karena usaha ini dijalankan oleh Mistar bersama dengan ayah dan para pakciknya beserta dengan para adik-adiknya.

    Dari uang modal yang dikirimkan oleh Mistar, sebagian besar uang digunakan sang ayah untuk mendatangkan peralatan pembuatan roti dan membuat bangunan khusus untuk membuat roti.

    Masih Percaya Peralatan Tradisional

    Karena belum mengerti peralatan modern, kebanyakan alat pembuatan roti yang didatangkan masih bersifat tradisional seperti tungku pembakaran dari batu bata dan kayu.

    Sedangkan alat penggiling adonan dibuat sendiri dengan besi tempa demi menghemat modal.

    Belajar dari pengalaman sang pakcik, Mistar tak lupa juga mempersiapkan ruangan khusus untuk menguapkan roti agar bisa mengembang.

    Ruangan uap ini menjadi satu dari inovasi dalam industri roti yang dijalankan oleh Family Bakery.

    Masa-masa awal berdirinya Family Bakery, Mistar banyak turun langsung mulai dari mengangkut karung terigu hingga mengadoni roti.

    Setelah usahanya berkembang, Mistar perlahan-lahan mulai melepas pekerjaannya kepada para karyawan dapurnya di bidang produksi hingga 25 orang.

    Selain karyawan yang bekerja di dapur, Mistar juga mempekerjakan 20 tenaga pemasaran untuk melakukan penawaran di luar daerah Belawan seperti Langkat, Serdang Bedagai, Binjai, Deli, hingga Aceh Timur.

    Jaringan pemasaran yang dimiliki oleh Mistar tidak ia manfaatkan sendiri, kadang-kadang ia juga menerima jasa pemasaran untuk produk roti milik temannya , Tina yang juga sesama mantan TKI.

    Untuk mengembangkan usaha roti ini, Mistar banyak mengandalkan pinjaman berakad yang diselenggarakan oleh Bank Sumut Syariah dan Lembaga Peningkatan dan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat.

    Mistar masih ingat pinjaman pertama yang diajukannya kala itu hanya disetujui sebesar 50 juta Rupiah saja, kini ia sudah menjadi salah satu pengampu akad terbesar di Bank Sumut Syariah.

    baca juga

    Didukung Penuh oleh Pemerintah

    Dalam perjalanannya menjalankan usaha roti, Mistar bersyukur sekali mendapat banyak bantuan dari pemerintah untuk meningkatkan kualitasnya.

    Mistar banyak mendapat masukkan maupun mendapat pemeriksaan kualitas dari dinas kesehatan provinsi setempat agar usaha rotinya bisa naik kelas.

    Selain itu ia juga banyak dibantu Badan Pelayanan, Penempatan, dan Perlindungan TKI untuk melakukan pelatihan kepada para karyawannya.

    Di Kemudian hari, Mistar berharap ia bisa memajukan usaha rotinya agar bisa setara dengan pemain-pemain besar di industri lain.

    Namun untuk mewujudkan hal itu, Mistar mengaku sangat tergantung dari kebijakan ekonomi yang diambil oleh Presiden Indonesia agar dapat menciptakan iklim usaha yang stabil.

    You May Also Like