Ritesh Agarwal CEO OYO

jkeitee.com – Anak muda biasanya diasosiasikan sebagai orang yang belum berpengalaman yang masih memiliki idealisme yang sangat tinggi.

Oleh karena itu jarang sekali ada anak muda yang menduduki posisi eksekutif tinggi di perusahaan-perusahaan besar dunia.

Berkat kemajuan pesat era teknologi , anak-anak muda seolah mendapat panggung untuk membuktikan kemampuan mereka memimpin bisnis rintisan mereka sendiri.

Adalah Rigesh Agarwal yang berhasil mematahkan stigma sekaligus menjadi penggerak kebangkitan bisnis kaum milenial dengan perusahaannya OYO.

Belum genap berusia 26 tahun, Ritesh sudah berhasil menjadi pemimpin perusahaan dengan valuasi lebih dari 10 milliar Dollar dan memiliki lebih dari 17000 karyawan di seluruh dunia.

Selain berhasil sukses di usia muda, Ritesh juga membuktikan ia bisa meraih kesuksesan tanpa harus mengenyam bangku kuliah.

Perjalanan Entrepreneurship Seorang Ritesh

Ritesh menjalani masa kecil yang sama dengan kebanyakan anak seusianya yang banyak menghabiskan waktu untuk bersekolah

Ia bersekolah dasar di kota kelahirannya Orissa dan melanjutkan pendidikan sekolah menengahnya di Saint John

Meski begitu berbeda dengan cara anak seusianya bersenang-senang, ia memillih untuk bersenang-senang dengan cara belajar progamming komputer.

Ilmu programming pertamanya ia dapatkan dengan mempelajari buku dasar-dasar koding milik kakaknya.

Karena keingintahuannya yang besar, Ritesh juga kerap meminta pelajaran bahasa-bahasa pemrograman seperti Basic dan Pascal di sekolah.

Pada usia 16 tahun, Ritesh termasuk salah satu anak yang terpilih untuk mengikuti Asian Science Camp yang diinisiasi oleh TATA Research Institute.

Ritesh Agarwal Menjadi Entrepreneur Termuda di Dunia Bersama OYO

Berlanjut ke tahun 2011 menginjak usianya yang ke 18 tahun, Ritesh yang berasal dari keluarga berada memutuskan untuk pergi ke New Delhi demi mendirikan bisnisnya sendiri.

Sebenarnya Ritesh sempat diterima di University of London cabang Delhi namun memutuskan keluar hanya tiga hari setelah hari pertama kuiiah.

Bisnis pertama yang ia buat adalah Oravel Stays, sebuah website penyedia direktori layanan tempat menginap

Oravel Stays yang didirikan oleh Ritesh sempat menarik perhatian dari Peter Thiel, seorang investor ulung yang mengajaknya bergabung dalam program inkubasi Thiel Fellowship.

Bergabung dengan Thiel Fellowship membuatnya harus berpindah ke California untuk menjalani serangkaian pelatihan.

Meski telah mendapatkan illmu dan pendanaan dari Thiel, nyatanya usaha Ritesh sempat tidak berjalan mulus.

baca juga

Kesuksesan OYO

OYO merupakan nama singkatan dari akronim On Your Own.

Ritesh menemukan ide untuk OYO ketika bisnis pertamanya justru tidak berjalan mulus.

Ketika sedang berupaya memikirkan langkah agar bisnisnya dapat tetap berlanjut, ia justru teringat pengalamannya ketika banyak berkunjung ke berbagai penginapan di India.

Kala itu ia mendapati bahwa ia seringkali kecewa dengan pelayanan yang diberikan oleh hotel dan penginapan-penginapan yang ia sewa.

Oleh karena itu ia berinisiatif untuk membentuk forum dan website untuk mengumpulkan tempat-tempat penginapan yang menurutnya layak direkomendasikan.

Ritesh juga menjadikan propertinya yang ada di Delhi sebagai salah satu hotel pertamanya yang menjadi cikal bakal OYO.

Berkat tangan dingin Ritesh dalam menjalankan ekseksusi strategi, OYO berhasil menjadi pemimpin industri hotel berbasis aplikasi di India dan beberapa negara di dunia.

baca juga

Mendapat kepercayaan penuh dari Softbank

Salah satu keputusan bisnis terbaik Ritesh adalah ketika ia berhasil membawa OYO memasuki pasar Tiongkok.

Untuk memuluskan ambisi tersebut, Ritesh berhasil meyakinkan sejumlah perusahaan ventura untuk menitipkan dananya di OYO untuk kepentingan ekspansi.

Dalam seri pendanaan untuk menuju ke Tiongkok, OYO berhasil mendapatkan pendanaan dari perusahaan-perusahaan besar seperti Softbank, Lightspeed, Greenoaks, hingga Sequoia yang berasal dari India.

Dari investasi sejumlah perusahaan tersebut,  OYO sudah mencapai angka valuasi sebesar 10 Milliar Dollar.

Tidak hanya menitipkan dana , pemilik perusahaan modal Softbank Masayoshi Son juga berpendapat bahwa OYO merupakan perusahaan yang paling berpotensi sebagai penggerak Softbank.

Hal tersebut bertepatan ketika salah satu perusahaan portofolio milik Softbank yaitu WeWork gagal menunjukkan kinerja yang menggembirakan.

Wework adalah salah satu perusahaan portofolio milik Softbank yang gagal melantai di bursa karena terkena skandal pemalsuan data keuangan perusahaan.

Kejadian tersebut berimbas kepada performa sahan Softbank yang sempat turun hingga angka 6,6% dan memaksa Masayoshi untuk memecat direktur utama WeWork, Adam Neumann.

Sebagai gantinya Softbank kini menggantungkan harapannya kepada Ritesh untuk dapat mencatatkan profit yang signifikan.

Saat ini OYO tercatat sudah mencapai pemillik jaringan hotel terbesar nomor tiga di dunia membelakangi Marriott Group dan Hilton.

baca juga

Ilmu Berbisnis dari Ritesh

Mampu memimpin sebuah perusahaan dari usia muda tentu membuat banyak orang bertanya-tanya resep Ritesh mencapai hal tersebut.

Ritesh Agarwal sendiri memang beruntung mendapat kesempatan untuk bertemu dengan investor dan pebisnis hebat seperti Peter Thiel.

Dari Thiel-lah, Ritesh mendapat banyak pelajaran yang akhirnya ia terapkan untuk bisnisnya di OYO

Dalam sebuah wawancara dengan Harvard Business Review, Ritesh membagikan beberapa prinsip berbisnis yang mengantarkannya dan OYO mencapai tingkat tertinggi.

Yang pertama adalah entrepreneur yang baik selalu dapat menciptakan suasana kondusif bagi para karyawannya.

baca juga

Hal tersebut penting karena suasana yang kondusif akan menghasilkan tim yang solid dan dapat bergerak seirama untuk mencapai tujuan perusahaan.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana menciptakan produk yang bisa mendistrupsi pasar.

Ritesh mengakui bahwa OYO memang memiliki tujuan untuk mendistrupsi pasar-pasar hotel yang selama ini dikuasai oleh nama-nama besar seperti Ritz Carlton, Hilton dan nama besar lainnya.

Untuk bisa mencapai itu semua, Ritesh menekankan bahwa ia sangat perlu bergantung kepada prinsip-prinsip berbisnisnya

Prinsip-prinsip dasar yang ia pegang dengan teguh selama ini tercermin dari tiga kata yaitu kesabaran, konsistensi, dan keteguhan terhadap apa yang harus dilakukannya.

Leave a Reply

four × 5 =

Open chat
silahkan chat kami disini
Silahkan Chat Untuk
Pemasangan Iklan Dan
Order Jasa Digital Marketing
Powered by